Sebelum Ledakan di Lebanon, Peringatan Soal Amonium Nitrat Tak Digubris

Sebelum Ledakan di Lebanon, Peringatan Soal Amonium Nitrat Tak Digubris

for-salecheapest-pricelasix.org – Sebagian besar amonium nitrat yang disangka jadi pemicu ledakan hebat di Beirut, Lebanon, disimpan 6 tahun di gudang dermaga tanpa cara keamanan tegas. Penyimpanan zat kimia beresiko itu sudah seringkali memperoleh peringatan dari faksi Bea Cukai Lebanon, tetapi belum pernah didengar.

Seperti dikutip CNN, Kamis (6/8/2020), dokumen-dokumen yang dilihat CNN mengutarakan jika muatan 2.750 ton amonium nitrat itu dibawa satu kapal punya Rusia, MV Rhosus, yang berlabuh di Beirut tahun 2013 kemarin. Kapal itu akan berlayar ke Mozambik, tetapi stop di Beirut sebab kesusahan finansial yang menyebabkan protes di golongan awak kapal asal Rusia serta Ukraina.

Oleh kewenangan dermaga Beirut, MV Rhosus selanjutnya ditahan sebab ‘pelanggaran berat dalam operasional kapal’, tidak bayar ongkos pada kewenangan dermaga serta sebab ada pengaduan dari awak kapal yang belum pernah dibayar gajinya. Kapal itu belum pernah meneruskan pelayarannya ke Mozambik serta ketahan di Beirut semasa beberapa bulan, sampai beberapa awak kapal dipulangkan ke negara asal mereka.

Kewenangan dermaga Beirut tidak meluluskan muatan amonium nitrat di MV Rhosus untuk di turunkan dari kapal atau dipindah ke kapal lain. Tahun 2014, Mikhail Voytenko, yang mengurus publikasi online yang mencari kesibukan maritim, serta pernah menyebutkan MV Rhosus untuk ‘bom terapung’.

Tetapi menurut pembicaraan e-mail di antara kapten kapal MV Rhosus, Boris Prokoshev, dengan seorang pengacara berbasiskan Beirut, Charbel Dagher, yang sebagai wakil beberapa awak kapal, muatan amonium nitrat dalam kapal di turunkan di dermaga Beirut pada November 2014 serta disimpan dalam suatu hanggar di dermaga.

Muatan beresiko itu masih disimpan di hanggar semasa enam tahun, walau ada peringatan dari Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, masalah ‘bahaya berlebihan’ muatan itu. Dokumen pengadilan yang didapat CNN lewat pengacara HAM Lebanon, Wadih Al-Asmar, mengutarakan jika Daher serta petinggi perintisnya, Chafic Merhi, berkali-kali, semenjak tahun 2014, minta pertolongan pengadilan Beirut untuk mengalihkan amonium nitrat itu.

Baca juga : Detik-detik Ledakan Dahsyat di Lebanon: Asap Oranye Hingga Berbentuk Jamur

“Dalam memo kami 19320/2014 tertanggal 5/12/2014 serta 5/6/2015… kami minta supaya Yang Mulia memerintah Kewenangan Dermaga yang bertanggungjawab untuk mengekspor kembali lagi Amonium Nitrat yang diambil alih dari kapal Rhosus serta diletakkan di hanggar Bea Cukai nomor 12 di dermaga Beirut,” catat Daher tahun 2017 kemarin.

Di titik spesifik, menurut dokumen pengadilan, Daher serta tawarkan untuk jual muatan amonium nitrat itu pada militer Lebanon, namun tidak berhasil. Pada Rabu (5/8) waktu ditempat, Daher memverifikasi pada CNN jika kantornya mengirim ‘total enam surat pada kewenangan legal’ tetapi kewenangan yang berkaitan belum pernah memberi respon surat-suratnya.

“Kewenangan Dermaga tidak semestinya meluluskan kapal untuk turunkan muatan zat kimia ke dermaga. Zat kimia itu awalannya dikirim ke Mozambik, bukan Lebanon,” tegas Daher.

Peringatan untuk mengalihkan muatan amonium nitrat itu tercantum pada surat Merhi — Direktur Bea Cukai Lebanon sebelum Daher — tahun 2016 kemarin.

“Sebab bahaya berlebihan yang diberi oleh beberapa barang yang disimpan pada keadaan iklim yang tidak cocok, kami memperjelas keinginan kami pada Kewenangan Dermaga untuk mengekspor kembali lagi beberapa barang ini dengan selekasnya untuk jaga keselamatan dermaga serta beberapa orang yang kerja didalamnya,” catat Merhi dalam surat tahun 2016 pada hakim ditempat yang mengatasi masalah ini.

Pada Rabu (5/8) waktu ditempat, Direktur Jenderal Dermaga Beirut, Hassan Kraytem, menjelaskan pada tv lokal, OTV, jika muatan beresiko disimpan di gudang dermaga sesuai dengan perintah pengadilan.

“Kami simpan material di gudang nomor 12 di dermaga Beirut sesuai perintah pengadilan. Kami ketahui jika mereka material beresiko, tetapi tidak sejauh itu,” sebut Kraytem dalam penuturannya.

Kraytem menyebutkan jika permasalahan perpindahan material eksplosif diulas oleh Kewenangan Bea Cukai serta Keamanan Negara, tetapi masalahnya belum ‘selesai’. “Bea Cukai serta Keamanan Negara mengirim beberapa surat (pada kewenangan berkaitan) minta untuk mengalihkan atau mengekspor kembali lagi material eksplosif enam tahun kemarin, serta kami menanti mulai sejak itu untuk mengakhiri permasalahan ini dituntaskan, tetapi gagal,” katanya.

Menurut Krayetm, kesibukan perawatan dilaksanakan pada pintu gudang beberapa saat sebelum ledakan hebat berlangsung. “Kami diharap untuk melakukan perbaikan satu pintu gudang oleh Kewenangan Keamanan Negara serta kami lakukan itu pada siang hari, tetapi apakah yang berlangsung pada sore harinya saya tidak paham,” pungkasnya.

Pertama Menteri Lebanon, Hassan Diab, awalnya menyebutkan ledakan hebat pada Selasa (4/8) waktu ditempat dikarenakan oleh 2.750 ton amonium nitrat, yang disimpan semasa 6 tahun di gudang dermaga tanpa ada beberapa langkah penyelamatan, hingga ‘membahayakan keselamatan warga’.

Minimal 135 orang meninggal serta seputar 5 ribu orang yang lain beberapa luka karena ledakan hebat itu.

Laporan paling baru menyebutkan petinggi dermaga Beirut yang memantau penyimpanan amonium nitrat semenjak tahun 2014 diputuskan untuk tahanan rumah. Ini dilaksanakan kewenangan Lebanon sampai diketemukan faksi yang bertanggungjawab atas ledakan hebat itu. Tidak diketahui dengan jelas ada berapakah petinggi yang akan diputuskan untuk tahanan rumah.

 

Leave a Reply