Kisah TKW Hidup di Tengah Gejolak Politik Hong Kong

0183f6aa-8401-44ac-be09-830ee492f934_169

Kisah TKW Hidup di Tengah Gejolak Politik Hong Kong

0183f6aa-8401-44ac-be09-830ee492f934_169

for-salecheapest-pricelasix.org – Di hari bebas Jochel umumnya melangkahkan kaki ke arah salah satunya taman terbuka di Hong Kong untuk berjumpa rekan seumuran atau menelpon keluarga di Indonesia. Tetapi panas musim ini, kesukaannya itu dapat jadi rawan, mengejar tindakan protes berbalas shooting gas air mata yang berlangsung semenjak beberapa waktu yang lalu.

Wanita berumur 35 tahun itu ialah satu diantara 370.000 buruh domestik yang membuat Hong Kong masih berperan seperti normal.

Umumnya datang dari Indonesia serta Filipina. Mereka dibayar murah serta seringkali harus hidup dalam ruangan sempit. Hanya satu hari bebas yang mereka punya, yaitu hari Minggu, sekarang jadi arena pertikaian jalanan di antara pengunjuk rasa serta polisi.

“Mata saya sempat sakit sekali,” kata Jochel saat pertama-tama merasakan diri terjerat antara pengunjuk rasa waktu berpiknik dengan rekan di Victoria Park. “Ini tidak baik. Masyarakat Hong Kong menanggung derita,” paparnya sambil bercerita ia diselamatkan oleh pengunjuk rasa waktu tersambar asap dari gas air mata.

Keamanan Pribadi

Umumnya buruh domestik di Hong Kong mendapatkan gaji sebesar HK$ 4.630 atau seputar Rp 8,3 juta per bulan serta harus tinggal bersama dengan majikan di apartemen kota yang sempit. Di hari bebas, TKW asal Indonesia umumnya berpelesir ke distrik Causeway Bay atau berjalan lintas alam telusuri trek-trek di tepi kota.

“Jika kami pergi begitu jauh, kami takut tidak dapat pulang ,” kata Sandy, salah seseorang TKW. “Kami harus telah berada di rumah pada jam 9 atau 10 malam.”

“Kami berupaya menjauh untuk keamanan sendiri,” paparnya .

Walau kondisi yang tidak aman, umumnya TKW akui akan bertahan di Hong Kong. “Majikan kami masih perlu kami serta kami masih memerlukan pekerjaan ini,” kata Sandy yang mengirim uang dengan bulanan pada orang-tua di tanah air.

Nasib sial contohnya dirasakan Veby Indah, seseorang jurnalis yang menanggung derita kebutaan permanen pada salah satunya matanya sesudah ditembak polisi memakai peluru karet. Ia kerja untuk Suara, situs berita Hong Kong dalam bahasa Indonesia yang ramai dibaca TKI.

Sensor Diri

Cukup banyak yang ingin memrotes penembakan itu, tetapi pilih diam. “Saya takut bisa permasalahan,” kata Marsanah yang telah kerja di Hong Kong semenjak tiga tahun. Diakuinya banyak rekanan TKW yang takut kehilangan pekerjaan atau izin tinggal bila turut bernada.

“Bila Anda diketahui turut masuk dengan apa pun yang berkaitan protes di Hong Kong, ada kemungkinan kami tidak dapat kerja di sini,” kata Eni Lestari, Direktur Jaringan Pekerja Migran Indonesia. Awalannya Eni punya niat menggalang massa memrotes penembakan Veby, tetapi sangat terpaksa diurungkan.

Baca juga :Kasus Istri Polisi Selingkuhi Dokter Berakhir Anti Klimaks, Suami Cabut Laporan

Mereka pada akhirnya pilih berdemonstrasi di muka gedung kedutaan Indonesia untuk menekan pemerintah Hong Kong menyeret aktor penembakan ke pengadilan. Kepolisian Hong Kong selama ini menampik mengungkapkan jati diri petugas yang tembak Indah. “Apa yang dikerjakan pemerintah Indonesia kurang,” kata seseorang TKW bernama Sringatin. “Cuma minta kita supaya berdoa serta masih tenang itu kurang,” paparnya.

Leave a Reply