Cegah Kasus Grooming, Kominfo: Hago Blokir Fitur Kirim Foto dan Kontak

efcdceed-1fc1-4bb4-adf7-cd68508a2e21_169

Cegah Kasus Grooming, Kominfo: Hago Blokir Fitur Kirim Foto dan Kontak

efcdceed-1fc1-4bb4-adf7-cd68508a2e21_169

for-salecheapest-pricelasix.org – Kementerian Komunikasi serta Informatika (Kominfo) menindaklanjuti masalah child grooming dengan modus bermain game online Hago. Kominfo minta faksi Hago untuk memblok feature kirim kontak dan photo, serta telah di setujui.

“Berkaitan situs yang dipakai aktor kami bekerjasama dengan Hago serta ia lakukan langkah bagus. Di aplikasi itu saat orang ingin meminta nomer HP (handphone) automatis tidak dapat dikerjakan serta automatis terblokir,” kata Kepala Sub Direktorat Pengaturan Content Internet, Kominfo Anthonius Malau di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Malau mengemukakan hal tersebut dalam acara pertemuan wartawan masalah pelecehan seksual pada anak di Polda Metro Jaya. Dalam peluang itu, Malau menyebutkan faksinya langsung mengontak faksi Hago serta bertanya hal itu.

Faksi Hago, kata Malau kooperatif serta menolong pemerintah supaya masalah grooming tidak terulang kembali. Malau menyebutkan Hago telah memblok feature ganti nomer HP di aplikasi game online itu.

Malau menjelaskan, penutupan feature itu telah berlaku pada Sabtu (27/7) kemarin. Penutupan itu untuk kurangi beberapa aktor pelecehan seksual dengan modus sama.

Baca juga : Pimpinan Taliban ke Indonesia Bahas Perdamaian dengan Afghanistan

“Tidak dapat (kirim nomer HP), photo juga. Photo kan image sesaat yang dikerjakan oleh Hago keterangan mereka nomer HP atau huruf yang memperjelas nomor ponsel contohnya 0 jadi 0 telah tidak dapat, terblokir automatis,” katanya.

Didapati, polisi tangkap AAP di Bekasi sebab lakukan tindakan pelecehan pada anak dibawah usia serta telah lakukan laganya pada 10 korban yang masih berusia 9-15 tahun. Modusnya AAP bermain game online Hago untuk cari korban lalu bertukar nomer ponsel.

Sesudah mendapatkan nomer ponsel, aktor lakukan video call ke korban serta korban diminta lakukan beberapa hal berbentuk pornografi serta direkam oleh terduga. Rekaman itu selanjutnya dipakai terduga untuk meneror korban supaya korban ingin lakukan tindakan sama itu dengan berkali-kali.

Atas perbuatanya, terduga dipakai Masalah 27 ayat (1) junto Masalah 45 ayat (1) junto Masalah 52 ayat (1) serta Masalah 29 junto Masalah 45B UU RI tahun 2016 mengenai ITE. Terduga dipakai Masalah 76 E junto Masalah 82 UU RI tahun 2014 mengenai perlindungan anak. Terduga terancam hukuman 15 tahun penjara.
(sam/idn)

 

Leave a Reply