Aksi Protes di Hong Kong Peringatan Bagi Taiwan Untuk Jauhi Komunis China?

72adb418-2785-48fb-aeb4-f72ee57aa444

Aksi Protes di Hong Kong Peringatan Bagi Taiwan Untuk Jauhi Komunis China?

72adb418-2785-48fb-aeb4-f72ee57aa444

for-salecheapest-pricelasix.org – Sekalinya ada penyerangan geng kriminil pro Beijing serta teguran keras polisi, masyarakat Hong Kong masih mengadakan tindakan protes tuntut hak-hak demokratisnya yang ditanggung oleh Konstitusi Hong Kong.

Saat Cina menggantikan kembali kekuasaan di Hong Kong dari Inggris tahun 1997, Beijing memang janji mengaplikasikan prinsip “satu negara dua skema” sepanjang 50 tahun. Tujuannya, skema di Cina daratan masih mengaplikasikan skema otoriter dengan kekuasaan tunggal Partai Komunis Cina, sedang Hong Kong ditanggung akan “demokratis” dengan hak-hak yang di nikmati masyarakatnya sepanjang ada dibawah kekuasaan Inggris.

Tindakan protes akhir-akhir ini yang diawali jadi protes pada RUU ekstradisi yang polemis, sekarang meluas jadi protes pada aparat keamanan, yang didakwa biarkan geng-geng kriminil menggempur serta memukuli peserta protes dengan sadis akhir minggu kemarin. Bahkan juga ada yang menuduh polisi bekerjasama dengan anggota geng.

Keadaan di Hong Kong jadi pelajaran buat Taiwan

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, semenjak awal pecahnya pergerakan protes di Hong Kong sudah berkali-kali mengatakan suport buat tindakan itu di beberapa basis sosial media. Nyatanya, sejumlah besar masyarakat Taiwan menyongsong baik sikap presidennya itu. Popularitas Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik DPP bertambah sampai 10 % dari mulanya.

Baca juga : Cegah Kasus Grooming, Kominfo: Hago Blokir Fitur Kirim Foto dan Kontak

Menteri luar negeri Taiwan, Joseph Wu, mengutuk kekerasan yang berlangsung pada demonstran serta mengutamakan jika “jalan ke depan dengan penentuan demokratis sejati”.

Sampai kini, memang benar ada beberapa masyarakat Taiwan yang menyarankan penggabungan kembali dengan Cina dengan mengaplikasikan prinsip “satu negara dua skema” seperti di Hong Kong. Tetapi perubahan belakangan ini ibaratnya jadi teguran keras buat beberapa orang di Taiwan, apa yang akan berlangsung kalau Taiwan jadi sisi dari Cina.

Taiwan sampai kini memang negara yang berdaulat, meskipun kedaulatannya tidak diterima oleh Beijing yang mendesak beberapa negara lain, Indonesia, tidak untuk mengaku kedaulatan itu. Tetapi selama ini, Taiwan masih mengaplikasikan skema demokratis serta mengaku hak-hak politik masyarakatnya, berlainan dari kondisi di Cina daratan.

Taiwan terima pelarian aktivis Hong Kong

“Hong Kong sudah jadi peringatan buat masyarakat Taiwan, serta menolong mereka untuk lebih mengerti risiko politik apa yang ada dibalik membuat jalinan yang lebih dekat sama Cina,” kata Wie Ting Yen, asisten profesor di Franklin and Marshall College di AS pada DW. “Benturan kekerasan di Hong Kong memperingatkan kembali beberapa manula di Taiwan, mengenai strategi sama yang dipakai pemerintah Taiwan sepanjang masa genting militer.”

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen memang sampai kini menampik prinsip “satu negara dua skema” yang diaplikasikan Cina di Hong Kong. Pergerakan protes RUU Ekstradisi jadi seperti proses peringatan, jika apa yang berlangsung di Hong Kong juga bisa “berlangsung keesokan hari di Taiwan”.

Semenjak Juni lalu, beberapa demo solidaritas untuk pergerakan protes di Hong Kong sudah diadakan di semua Taiwan, dibarengi oleh beberapa ribu orang. Bersamaan tumbuhnya solidaritas pada masyarakat Hong Kong, Taiwan terima beberapa pengunjuk rasa Hong Kong yang melarikan diri sebab cemas kejaran aparat keamanan Cina. Beberapa kantor berita Taiwan pertengahan Juli memberikan laporan jika beberapa puluh aktivis demonstrasi dari Hong Kong sudah datang di Taiwan. (ponsel/as)

 

Leave a Reply